Tanpa menunggu Ji Anning merespon, Qi Helian langsung menarik tangan Ji Anning tanpa memberinya kesempatan untuk menolak.
Ji Anning ditarik oleh Qi Helian di hadapan banyak orang.
"Tuan Muda Ji, aku telah membawanya kemari." Qi Helian membawa Ji Anning ke tempatnya semula dan menunjukkan Ji Anning pada Ji Chicheng.
Mata Qi Helian yang sipit dan tatapannya tajam seperti mata burung phoenix itu menatap Ji Chicheng sambil tersenyum, tatapan matanya tampak ambigu, seakan-akan ia ingin menggodanya.
Tuan Muda Ji? Ji Anning tampak terkejut, matanya terbuka lebar, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah yang sangat ia kenal.
Mata hitam pekat pria itu menatapnya dengan sangat dalam. Hingga tidak bisa ditebak apa yang ada dalam pikirkan saat ini.
Ji Anning tampak tercengang menatapnya, dalam benaknya hanya satu kata yang menggambarkan situasi yang ia rasakan saat ini, 'GAWAT!'
Melihat ekspresi Ji Anning yang tampak bingung, Qi Helian tersenyum dan berkata, "Sepertinya dia sudah mengenalmu."
Ini tidak mengherankan.
"Ingin menjadi bintang besar?" Ji Chicheng menatap Ji Anning yang matanya tampak merah dan rambutnya yang panjang terlihat sangat berantakan. Ekspresinya sangat datar. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku, dan diam-diam ia mengepalkan tangannya sangat erat.
Ji Anning menundukkan kepalanya dan hanya diam tidak mengatakan apapun.
Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menjadi bintang besar, tapi hanya ingin menghasilkan uang sendiri sehingga bisa menabung untuk dirinya sendiri.
Tapi apa gunanya menjelaskan semua itu kepadanya.
Ji Anning hanya bisa menunggu hukuman yang akan diberikan kepadanya. Suara Ji Chicheng yang dingin masih terngiang di kepalanya, "Jika demikian, kamu cukup menemui Qi Helian langsung, bukankah kalian sudah saling mengenal."
Mendengar ini, Qi Helian mengerutkan keningnya, "Tunggu, apakah kita saling mengenal?"
Ia membungkuk dan menatap Ji Anning dari bawah ke atas, dan akhirnya menatap wajahnya.
Tiba-tiba ia teringat. Sambil menunjuk ke arah Ji Anning ia membuka mulutnya karena terkejut, "Dia adalah... calon istri Jingfeng?"
Ekspresi Ji Chicheng yang tegas langsung berubah jadi suram seperti bagian bawah wajan yang menghitam, "Qi Helian, bukankah kamu mau shooting?"
Nada suara yang dingin membuat Qi Helian merinding dan ia segera menutup mulutnya, lalu kembali ke kursi dengan malas dan ia pun duduk di kursi tersebut. Ia memberikan waktu kepada Ji Chicheng untuk menegur calon istri dari keponakannya yang telah diam-diam menjadi pemeran pengganti itu.
Setelah itu ia kembali melihat adegan shooting dengan antusias.
Ji Anning terus menundukkan kepala dan tidak berani menatapnya, ia bisa merasakan tatapan Ji Chicheng yang sangat dingin itu.
Ia merasa bersalah jika pergi, tapi ia juga merasa salah jika tetap berada di situ.
Seperti yang sudah ia bayangkan sebelumnya, ketika pria ini telah kembali, ia langsung merasa tidak beruntung.
Sudah lebih dari dua tahun ia menjadi pemeran pengganti. Namun ia tidak pernah menyangka pada akhirnya Ji Chicheng mengetahui secara langsung apa yang sudah ia sembunyikan selama ini.
Bisa dikatakan bahwa hidup mereka selalu saling terlibat satu sama lain.
Ji Anning tersenyum kecut menerima kenyataan ini.
Suasana sunyi membuat Ji Anning merasa sangat tertekan, kedua tangannya memegang roknya dengan erat.
"Qi Helian, Tolong beri dia status pemeran utama atas permintaanku."
Akhirnya, suara Ji Chicheng terdengar, ia menoleh dan melihat Qi Helian yang terbaring malas. Ekspresinya yang acuh tak acuh menyembunyikan amarah yang bisa meledak dengan mudah.
Saat Ji Anning mendengar kata-kata itu, ia mendongakkan kepalanya sambil bergeleng menatap Ji Chicheng, "Paman... jangan."
Ji Chicheng selalu meremehkannya sejak ia masih kecil, dan selalu menganggapan ia sebagai pengecut. Sekarang Ji Anning melakukan pekerjaan sebagai pemeran pengganti di luar. Tentunya hal ini semakin membuat malu keluarga Ji, dan ia dapat melihat bahwa Ji Chicheng benar-benar marah akan hal ini.
Tapi ia tidak bisa membiarkan Ji Chicheng memberitahu keluarga tentang hal ini, kalau tidak ia akan benar-benar dalam keadaan gawat. Dengan temperamen kakek yang seperti itu, ia pasti tidak akan memiliki kesempatan untuk masuk universitas lagi.
Orang tuanya akan segera menyuruhnya untuk menikah dengan Jingfeng dan melahirkan anak.
Memikirkan hal itu Ji Anning merasa ke depannya ia tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi. Menggenggam kedua pergelangan tangan Ji Chicheng dengan kedua tangannya, dan memohon dengan getir, "Paman, aku tahu aku salah, aku benar-benar tahu bahwa apa yang aku lakukan ini memang salah. Tolong jangan beritahu Kakek."
Matanya yang sudah memerah sedari tadi, kini menjadi semakin merah, dan air mata perlahan mengalir keluar dari sudut matanya.