Setelah Ji Anning menyelesaikan prosedur penerimaan mahasiswa baru, ia segera berjalan menuruni tangga menuju kantor pendaftaran jurusan mereka yang ada di lantai bawah, saat hendak menuruni tangga ia melihat jam tangannya.
"Ji Anning."
Ketika kakinya baru menuruni satu tangga, tiba-tiba seseorang yang berbadan tinggi tiba-tiba melompat muncul di hadapannya, entah dari mana datangnya orang tersebut menghalanginya jalan di depannya.
"Ah!" Ji Anning terkejut, ia menepuk dadanya, kemudian mengerutkan alisnya saat melihat seorang gadis cantik di depannya, "Danning, kamu benar-benar mengagetkanku."
Orang itu ternyata adalah Yang Danning, teman masa kecil Ji Anning.
Mereka seumuran dan juga tumbuh besar di kota yang sama. Namun ia saat ini sudah menjadi mahasiswa tahun kedua, ia kuliah lebih awal dari Ji Anning.
"Hah! Kamu penakut ya?" Yang Danning mengalihkan pandangannya pada Ji Anning, dan menatapnya dengan ketidakpuasan, "Kemarin kamu berulang tahun dan kamu berkata akan merayakan ulang tahunmu bersamaku. Tapi kamu mati-matian menolak untuk keluar rumah, kamu tidak tahu kan betapa jengkelnya aku?"
"Danning, maafkan aku." Ji Anning meminta maaf sambil menundukan kepalanya, dan mengerutkan bibirnya.
Saat itu ia tidak terpikirkan untuk keluar rumah dan merayakan ulang tahun yang sederhana dengan teman baiknya, jika ia melakukannya maka kejadian buruk semalam pun tidak akan terjadi.
Sekarang ketika ia mengingat kejadian itu, ia masih gemetaran. Ia benar-benar berharap semua kejadian malam itu hanyalah mimpi buruk.
"Baguslah, kamu meminta maaf padaku." Yang Danning berpura-pura cemberut dengan marah, lalu menundukkan kepalanya dan mengeluarkan kotak kecil yang bagus dari tas selempang yang tergantung di bahunya, kemudian menyerahkannya kepada Anning, "Yah, walaupun aku sangat marah, tapi hadiahnya sudah dibeli dan akan sia-sia jika dibuang."
Yang Danning mengangkat dagunya dan terlihat sombong, seolah-olah ia sedang memberi sedekah, tetapi Ji Anning tetap tersenyum dan berkata, "Danning, terima kasih."
Setelah Ji Anning berterima kasih pada Yang Danning, Ji Anning mengulurkan tangan dan langsung mengambil kotak hadiah di tangan Yang Danning.
Saat itu Yang Danning masih mengangkat dagunya, mulutnya cemberut, dan berpura-pura sedang marah sambil menatap Ji Anning ia berkata, "Kalau kamu berterima kasih padaku, traktir aku makan dong."
"Oke." Ji Anning mengangguk dengan cepat, namun Ji Anning tiba-tiba kembali cemberut seolah tidak berdaya, "Tapi hari ini tidak bisa, kita makan bersama lain hari ya."
"Eh... Bisakah sedikit lebih terbuka padaku?" Yang Danning mengerutkan keningnya, dan langsung mendorong dahi Ji Anning dengan tangannya, "Kamu mau kemana, ada urusan lagi sih?"
Ji Anning kelihatannya sudah terbiasa akan karakter Yang Danning.
"Memang aku bisa ngapain lagi." Ji Anning mengerutkan bibirnya sambil melihat ke kotak kecil yang ada di tangannya. Ia sangat menghargai hadiah pemberian Yang Danning dan menggenggam dengan kedua tangannya, lalu dengan lembut menggosok sudut kotak kecil itu dengan ibu jarinya.
Yang Danning tinggal di Ibukota, namun hanya Yang Danning satu-satunya teman yang peduli padanya, setiap tahun selalu ingat dengan hari ulang tahunnya, dan biasanya selalu diam-diam mengajaknya kabur keluar untuk mengikuti pesta kecil setelah acara perkumpulan keluarga pada setiap hari besar.
Ji Anning sangat menghargai dan menyayangi Yang Danning.
Yang Danning mengerutkan keningnya dan dengan nada tenang ia berkata, "Ji Anning, apa kamu mau pergi untuk melakukan peran figuran lagi ya?"
Yang Danning memang memiliki suara yang nyaring, tapi saat ini ia sedang sedikit marah, sehingga suaranya terdengar lebih keras dari biasanya. Kemudian Ji Anning dengan cepat mengulurkan tangan untuk menutup mulutnya, "Pelankan suaramu."
Setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya, ia kembali menarik tangannya dan membuka mulut Yang Danning.