Setelah selesai mandi dan membalut tubuhnya dengan handuk, ia keluar kamar mandi dengan bingung. Ji Anning tidak melihat gaun kecil yang dikenakannya kemarin. Hanya ada gaun lengan pendek berwarna biru muda dan putih seperti bulu angsa dari Chanel yang tergantung di lemari, dan ukuran baju itu sesuai dengan ukuran tubuhnya.
Ia tidak terlalu berpikir panjang, dan ia juga tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Kemudian ia pun langsung mengenakan gaun itu. Untungnya gaun itu tidak terlalu terbuka, dan dengan sempurna menutupi bekas kemerah-merahan yang ada di tubuhnya.
Sebelum pergi meninggalkan kamar hotel, Ji Anning terlebih menoleh ke kanan dan kiri untuk mengecek kamar hotel. Setelah itu ia pergi meninggalkan hotel, selama berjalan ia terus menundukkan kepalanya.
.....
Ji Anning memesan taksi untuk turun di persimpangan jalan, tempat ia dan Ji Jingfeng telah janjian untuk bertemu.
Hari ini langit tampak cerah dan angin juga berhembus sangat sejuk, pohon-pohon yang tumbuh di kedua sisi jalan tampak hijau dan subur.
Angin yang berhembus lembut, membuat roknya sedikit berkibar.
Suara mobil perlahan-lahan datang dari belakang, Ji Anning perlahan membalikkan badannya, seiring ia berbalik membuat ujung roknya ikut berputar. Angin tiba-tiba berhembus sehingga membuat rambut depannya tampak sedikit berantakan, wajahnya tampak putih bersih dan cantik sempurna.
Mobil Maserati berwarna hitam perlahan melaju lewat di depannya.
Jendela mobil itu terbuka, di dalam mobil itu terlihat seorang pria yang sedang duduk dengan tenang di kursi belakang, mengenakan kemeja berwarna putih dan membuat wajahnya yang tampan menjadi tampak lebih bersih dan bersinar.
Ji Anning terkejut dan buru-buru melihat orang tersebut
Ia bahkan mencium aroma… yang tidak asing baginya, memiliki kesan berkelas dan elegan…
Ji Anning memandang mobil Maserati hitam yang perlahan-lahan menjauh darinya, dan senyum tipis lalu muncul di bibirnya.
Di bawah sinar matahari yang berwarna keemasan, ia tersenyum dengan anggun.
Lelaki sombong itu kembali, setan asli kini akhirnya telah kembali.
Waktu tiga tahun, sepertinya tidak terlalu lama.
Saat ia melihat dengan terlalu serius, ia tidak menyadarinya sebuah mobil Audi putih berjalan pelan di sisinya.
"Tin!"
Luo Anning tersadar dari lamunannya ketika orang di mobil membunyikan klakson dan segera menoleh ke samping.
Saat itu orang yang ada di mobil juga menjulurkan kepalanya keluar jendela, dan terlihat seorang pria dengan wajah imut dan tampan. Ia menunjukan senyuman meminta maaf dan berkata, "An an, pasti sudah lama kamu menunggu di sini."
Setelah Ji Anning melihat Ji Jingfeng, ia tanpa sadar menundukkan kepalanya dan menghindari tatapan matanya dengan perasaan bersalah. Kemudian ia menggelengkannya dengan lembut, "Tidak."
Kemarin malam seorang pria asing telah mencuri kesuciannya.
Bagaimana ia akan menghadapi Ji Jingfeng, tunangan yang juga teman masa kecilnya, dan kini akan menjadi calon suaminya.
Orang yang dulu pernah menyelamatkan hidupnya…
Ji Anning tidak berani menghadapinya, ia merasa sangat malu terhadap dirinya sendiri.
"Apa yang kamu lihat? Kamu terlihat sangat terpesona." Ji Jingfeng meletakkan lengannya di jendela mobil, memutar lehernya ke samping, lalu ia tersenyum pada Ji Anning.
Tatapan Ji Jingfeng membuat Ji Anning takut untuk mengangkat kepalanya dan bertatapan mata dengannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan lembut sembari berkata, "Tidak ada…"
Setelah menjawab Ji Jingfeng, ia melihat kembali melihat ke depan, dan ia baru sadar bahwa mobil Maserati hitam itu telah berbelok dan menghilang.
Kemudian Ji Anning baru mengulurkan tangan untuk membuka pintu mobil lalu masuk ke mobil Ji Jingfeng.
Mobil melaju perlahan memasuki halaman yang mewah. Sebuah vila berdiri di tengah-tengah halaman. Air mancur yang selama tiga tahun ini tidak pernah menyala. Kini kembali menyala dan terus menyemprotkan air ke atas, tampak begitu indah seperti ada seorang dewi yang menebarkan bunga-bunga dari atas.